Jumat, 28 Juni 2013

Pouring Rain (Part 3)




Aku masih menikmati hujan diluar sana. Duduk sendirian dipinggir jendela sebuah coffe shop. Udaranya sedikit mengembun dipermukaan jendela. Iseng untuk menyapukan embunnya dengan jari telunjuk. Membentuk emot ‘smile’. Lalu tersenyum sendiri.
Terdengar suara cekikikan dari sepasang anak SMA yang duduk disudut ruangan, sedang membaca majalah zodiak. Aku mengalihkan pandangan ke capucchino panas yang sedang aku genggam. Aku hirup dalam-dalam sambil tersenyum. Selalu seperti ini. Menggenggam erat cangkir, sambil tersenyum dengan mata terpejam. Ntahlah, aku lupa dari sejak kapan aku mempunyai kebiasaan seperti ini.
Hujan.
Ada yang pernah bilang, kalau payung memang tidak akan pernah menghentikan hujan. Tapi payung bisa membawamu sampai ketujuan.
Aku terdiam. Lalu teringat Adit.

Sore sesudah kami bertemu, aku berusaha untuk tuli dengan semua telepon yang masuk darinya. Lalu berpura-pura buta dengan semua pesan singkat darinya. Aku cuma tidak mau bodoh untuk mengulangi hal yang sudah-sudah. Hanya merasakan takut diabaikan untuk kesekian kalinya. Dan bukan bermaksud balas dendam. Tetapi waktu yang mengajarkan semua. Well.. kalau jodoh tidak bakal kemana. Aku tersenyum kecil.
Mungkin terdengar klasik. Tapi itu memang benar. Kalau bertemu sekali lagi, mungkin kita memang berjodoh, Dit.
Oke, aku mulai memikirkan hal gila.

Tapi sekarang, aku bersama Dimas. Dia yang menyayangiku. Kadang sedikit merasakan sering diduakan dengan pekerjaan kantornya. Lalu sering menghabiskan malam minggu dengan menonton dvd sendirian didalam kamar. Dan mulai ragu dengan hubungan yang mau dibawa kemana. Sudah 1 tahun 3 bulan menjalani. cincin sudah melingkar dijari tengah. Bila mulai merasa ragu, selalu meyakinkan dalam hati, bila semuanya akan baik-baik saja.

Aku menghela nafas panjang.
Berpikir kalau semuanya bakal terasa baik jika hal yang aku mau benar-benar terjadi sesuai keinginan. Aku hanya menginginkan seseorang yang menerimaku dengan semuanya yang aku punya, dan tidak berusaha mencari yang tidak aku punya didiri orang lain. Cukup menerimaku, apapun cerita tentang keluargaku. Membuatku tertawa setiap hari. Melakukan hal-hal bodoh dengannya. Berbagi cerita. Aku memang bukan pemberi solusi yang bagus. Tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik. Bahu yang kuat untuk menopang beban.
Aku menginginkan seseorang seperti itu. sesimple itu.
Haha. Memang cengeng. Bodoh.
Menyeka pipi dengan tissue sambil tersenyum.
Memutuskan untuk pulang. Tidak peduli dengan hujan yang masih lumayan deras. Hujan bisa melunturkan tangis diluar sana.
Menarik gagang pintu, lalu menengadah menatap seseorang yang ternyata mendorong pintu ingin masuk.

Itu.. ADIT !!
 -the end-