Aku masih menikmati
hujan diluar sana. Duduk sendirian dipinggir jendela sebuah coffe shop.
Udaranya sedikit mengembun dipermukaan jendela. Iseng untuk menyapukan embunnya
dengan jari telunjuk. Membentuk emot ‘smile’. Lalu tersenyum sendiri.
Terdengar suara
cekikikan dari sepasang anak SMA yang duduk disudut ruangan, sedang membaca
majalah zodiak. Aku mengalihkan pandangan ke capucchino panas yang sedang aku
genggam. Aku hirup dalam-dalam sambil tersenyum. Selalu seperti ini.
Menggenggam erat cangkir, sambil tersenyum dengan mata terpejam. Ntahlah, aku
lupa dari sejak kapan aku mempunyai kebiasaan seperti ini.
Hujan.
Ada yang pernah
bilang, kalau payung memang tidak akan pernah menghentikan hujan. Tapi payung
bisa membawamu sampai ketujuan.
Aku terdiam. Lalu
teringat Adit.
Sore sesudah kami
bertemu, aku berusaha untuk tuli dengan semua telepon yang masuk darinya. Lalu
berpura-pura buta dengan semua pesan singkat darinya. Aku cuma tidak mau bodoh
untuk mengulangi hal yang sudah-sudah. Hanya merasakan takut diabaikan untuk
kesekian kalinya. Dan bukan bermaksud balas dendam. Tetapi waktu yang
mengajarkan semua. Well.. kalau jodoh
tidak bakal kemana. Aku tersenyum kecil.
Mungkin terdengar
klasik. Tapi itu memang benar. Kalau
bertemu sekali lagi, mungkin kita memang berjodoh, Dit.
Oke, aku mulai
memikirkan hal gila.
Tapi sekarang, aku
bersama Dimas. Dia yang menyayangiku. Kadang sedikit merasakan sering diduakan
dengan pekerjaan kantornya. Lalu sering menghabiskan malam minggu dengan
menonton dvd sendirian didalam kamar. Dan mulai ragu dengan hubungan yang mau
dibawa kemana. Sudah 1 tahun 3 bulan menjalani. cincin sudah melingkar dijari
tengah. Bila mulai merasa ragu, selalu meyakinkan dalam hati, bila semuanya
akan baik-baik saja.
Aku menghela nafas
panjang.
Berpikir kalau semuanya bakal terasa baik jika
hal yang aku mau benar-benar terjadi sesuai keinginan. Aku hanya menginginkan
seseorang yang menerimaku dengan semuanya yang aku punya, dan tidak berusaha
mencari yang tidak aku punya didiri orang lain. Cukup menerimaku, apapun cerita
tentang keluargaku. Membuatku tertawa setiap hari. Melakukan hal-hal bodoh
dengannya. Berbagi cerita. Aku memang bukan pemberi solusi yang bagus. Tapi aku
bisa menjadi pendengar yang baik. Bahu yang kuat untuk menopang beban.
Aku menginginkan
seseorang seperti itu. sesimple itu.
Haha. Memang
cengeng. Bodoh.
Menyeka pipi
dengan tissue sambil tersenyum.
Memutuskan untuk
pulang. Tidak peduli dengan hujan yang masih lumayan deras. Hujan bisa
melunturkan tangis diluar sana.
Menarik gagang
pintu, lalu menengadah menatap seseorang yang ternyata mendorong pintu ingin
masuk.
Itu.. ADIT !!
-the end-
