Untukmu UtamaPutra,
Aku
mengucapkan pinta pada semesta supaya kau bukan hanya sekedar datang untuk
sebuah kepergian. Dan bukan pula hanya menjadi batu loncatan yang harus segera
kulewati. Semenjak denganmu aku banyak sekali meminta pada semesta, agar Dia tahu,
meskipun aku begitu keras kepala, aku bersungguh-sungguh menginginkan selamanya
pada kita.
Mungkin, jalan
yang nantinya kita lalui belum terlihat jelas seberapa sulitnya. Namun satu
yang aku tahu pasti, menggenggam tanganmu.. meringankan bebanku.
Mungkin suatu
hari nanti kau jengah melihatku.
Mungkin suatu
hari nanti pula, aku lelah menghadapimu.
Mungkin pula
suatu saat nanti kita tahu jalan masing-masing.
Dan mungkin
pada saat nanti yang tersisa hanyalah beberapa lembar potong penyesalan dan
segenggam besar ego masing-masing.
Tapi kamu
harus tahu, perasaanku padamu tak akan ada habis-habisnya.
Untukmu UtamaPutra,
Kau tidak
perlu khawatir aku akan meninggalkanmu, karena untuk beranjak sedikitpun, aku
tidak pernah mampu.
Kamu juga tidak
perlu khawatir aku melukaimu, karena dengan melihatmu sedih sedikitpun, aku
tidak pernah tega.
Kamu tidak
perlu cemas aku berpaling darimu, karena untuk memalingkan wajah darimu
sedikitpun, aku tidak pernah mau.
Kamu tidak
perlu cemas aku tak lagi mencintaimu, karena berhenti mengingatmu sedikitpun
saja, aku tidak sanggup.
Kamu tidak
perlu khawatir tentang semua perhatian dan perasaanku untukmu hilang, karena
sebagaimanapun kita tak bersama lagi, kamu tahu... selalu ada tempat
teristimewa untukmu diseluruh bagian dari diriku. Meskipun kamu tidak pernah
mampu dan akan seperti ini untukku.
Lalu bolehkah
aku menamaimu sebuah kebahagiaan yang aku tuju?
Denganku
jangan pernah berhenti berlari. Karena sekalinya berhenti, terasa akan seperti
mati. Berlarilah sekencang mungkin.
Sekencang itu
juga aku akan memperjuangkanmu.
