Senin, 16 Januari 2012

♥ my HIJAB

huuaahh.
udah setaon ni make hijab.
cuma mau share, dikit kok bisa ya "make" hijab ?

awalnya mama sering ngomong : "eti kapan pake jilbab ?"
dan emang dasarnya cuek, cuma jawab : "nanti ma, belom siap. hehe"

trus kakak yang denger itu langsung nyaut : " mo sampe kapan ti ? gara gara lo nanti gua masuk neraka, gara gara lo gak make jilbab. kan pasti cowok dirumah dulu yang kena. gak kasian lo ?"
trus aku bales cuma ketawa. ckck

kelas 3 SMA, disuruh guru agama waktu bulan puasa sebulan full make jilbab. diturutin deh. tapi lepas bulan puasa, lepas lagi. tapi ada 1 temen nih, si RAHMI namanya. dia masih make tu jilbab. cuma tu anak yang gak lepas lagi jilbab abis dari bulan puasa. saut juga sih.
trus dia cerita "eti, waktu aku sendiri yang make jilbab abis bulan puasa trus skolah rasanya maluuu bener, tapi sekarang udah gak. ihihi"
dan aku masih gak ngefek ! ckck

aku mimpi.. aku mimpi make jilbab putih. putihnya teraanggg ampir ke silau.
pas bangun langsung berasa ada yang beraatt. dipikiran.
pake gak ya ? pake gak ya ?
pas paginya cerita sama mama. trus kata mama :
"nah sekarang terserah etilah, tapi jangan abis make jilbab lepas lagi. awas ya"

dan emang.. waktu itu aku bandel. masi aja gak pake !

sumpah, waktu itu kek ada yang berat gara gara mimpi itu. ntah berapa bulan abis itu, mimpi hal yang sama !
paginya cerita lagi sama mama, mama bilang :
"nah kan mimpi lagi, ti, enak kan make hijab sekarang, waktu dikasi pringetan sama ALLAH. mumpung dikasi "gerakan" ati make jilbab. takutnya pas tua nanti malah gak kepikiran make jilbab."

dan aku akhirnya make HIJAB buat pertama kalinya keluar rumah pas tanggal  
16 Januari 2011 :)
nih foto perdananya . ihihi
*untung masih ada*
nih foto sama kak pep :D

ni masang hijab laamaaaaaaaaaaaaa bener ! sampek kringetan ! hahaha
tapi lama lama.. jadi mudah, gak sampe 5 menit udah kelar. hehe
aku gak mau boong ya, tapi beneran.. abis make hijab kek ada yang ilang semuaaa beban aku.
PLONG rasanya. gak tau apa yang plong.

thanks myALLAH for everythings You gave for me :)
makasi buat mama. makasi ma buat "cubitan" nya. hehe

waktu itu aku bilang kalo aku gak siap make jilbab, biar "hati" dulu yang dibenerin. tapi sekarang aku malah GAK SUKAK kalo ada yang ngomong gitu. karena apa ?
banyak yang bilang gini : "buat apa pakai jilbab kalau hatinya belum bersih?" sedangkan ALLAH berfirman :

".....Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya KESELURUH TUBUH MEREKA.” [QS Al-Ahzab: 59]
(INGET ! ketubuh mereka, bukan "HATI MEREKA")

nah itu diye alesannya :')

mudah mudahan ALLAH selalu bantuin aku ngejaga semua kehormatan aku, sikap aku, dan makin nyaman make hijab :)
Aamiin ya Rabb.
i my HIJAB. Hijab is my CHOICE :)
how about u ?


Selasa, 10 Januari 2012

the greatness of heart


akhir akhir ini kok sering ngelakuin "something's stupid" ya ?
huh. koplak jugak lama lama.

iaa, sering ngelakuin gini :
1. ngetik sms
2. bengong liat ketikan sms yang siap dikirim
3. trus mikir "sms gak ya ? kalo gak sms... kalo sms..." *mikir keras*
4. aahhhhhhh !!! *langsung narok hape* kesel sendiri !
5. ngambil hape lagi, ngetik kata kata yang sama kek tadi. baca lagi. bengong.
6. ngurangi ato nambahin kata kata yang penting apa gak. trus bengong lagi.
7. dikirim sambil deg degan.

1 menit... 2 menit.... 3 menit... gak ada balesan !!

WUAAAAA ! langsung mikir : I'M REGRET to send the message !!
trus lemess.

5 menit dari situ ada bunyi dering sms masuk. skali ini nambah aneh !
malah gak mau noleh ke hape, takut yang bales malah "dy" yang ditunggu tunggu tadi. malah gak mau megang tu hape.
tapi pelan pelan ngambil hape... gak mau liat sapa yang ngirim.. langsung cepeetttttt buka kunci hape trus baca sms nya sambil mejem bentar. kek ada yang bakal meledak kalo sms itu langsung dibuka ! trus baca sms sambil deg degan gak jelas. ckck.
 oh my ALLAH.. why I was nervous like this ? I'd never done before -.-"

huh, kenapa semenjak "itu" semuanya berasa kek ada yang berubah ? entah dari pihak sini ato pihak sana.
hahaha. bahasanyaaa... PIHAK gitu :D


ehh, iyaa. how are you ? how are you, beautiful girl dressed in peach ?
You've made me very jealous yesterday. HAHAHAH
yaahh, I'M SURE ! i'm jealous :')

gak tau harus seneng apa nyesek ngeliat kamu kemaren, tapi ada perasaan lega disini. tapi banyakan nyeseknya sih. you  make him walking away from me. aku sadar. sadaaaarrrrrr bener. gimana gak sadar ?
2 kali gitu ! He's walk away from me after we saw you..
yahh, mau gimana lagi coba ? kayaknya dia juga masih ada rasa sama kamu, wek. << cewek maksudnya.

huff..
Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.
Aku benci jatuh cinta.
Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu,
tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak,
selalu menebak-nebak.
Aku benci deg-degan menunggu kamu online .
Dan di saat kamu muncul,
aku  akan membeku lalu tangan mulai berkeringat,
lalu berpikir,
tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu,
di seberang sana,
bisa tertawa.
Karena, kata orang,
cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa.
Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku 
dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya,
menghapusnya,
memikirkan kata demi kata.
Aku benci ketika jatuh cinta,
semua detail yang aku ucapkan,
katakan,
kirimkan,
tuliskan ke kamu menjadi penting,
seolah-olah harus tanpa cacat,
atau aku bisa jadi kehilangan kamu.
Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu.
Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu.
Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri?
Apakah tanganmu yang kamu sengaja menyentuh pipiku ada maksud dibaliknya?,
atau ada maksud lain,
atau aku yang -sekali lagi-salah mengartikan- dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada,
menjalar ke sekujur tubuh,
dan aku merasa pasrah,
gelisah.
Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman,
tanpa harus tidur.
Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu memainkan lenganku dengan lembut,
Oh, aku benci kenapa ketika tangan kita bersentuhan hampir menggenggam,
aku tidak bernapas,
aku merasa canggung,
aku ingin berlari jauh.
Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu,
tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan,
Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,
harus dimentahkan oleh hati yang berkata,
Jangan hiraukan logikamu.
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu.
Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna,
kamu bisa saja tanpa cela, dan aku,
Aku benci harus memikirikan apa yang kamu lakukan bersamanya,
menghabiskan waktu dengannya,
atau jalan bersama dia yang lain,
Aku bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu.
Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu.
Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini;
di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan

aku takut sendirian.

Senin, 02 Januari 2012

cinta BUTUH perjumpaan

lagi lagi ketemu "tulisan" yang KERENN gilak !
baca ni tulisan sampe ketawa sendiri, senyum senyum, deg degan, sampe mangap.
UWWAAA !!!

gak bisa gak ya, emang rada 11 12 lah sama ni cerita.. hihi
berawal dari dunia maya, smsan, ketemu.. dan dan..
you know lah :D

gak sabar  ? ni BACA ampe slesai ! :)




“Cinta memang butuh perjumpaan, bukan paksaan”

Aku tertegun membaca tulisannya, aku bahkan bisa meringis malu hingga tertawa lugu. Semua karena tulisannya, dia benar-benar memaksa otakku untuk terus bertanya dan mencari jawabnya. Dia membuat bagian kosong dalam hatiku menjadi terisi oleh semua daya tarik dan cara pikirnya. Ini memang gila atau bisa disebut juga abnormal. Bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh cinta hanya karena tulisan? Ketika deret huruf dan angka menjadi sebab tak logis dari jatuh cinta. 

Cinta memang bisa tercipta dalam berbagai keadaan, bahkan dalam keadaan tak normal sekalipun.


Terlewat sudah 2 bulan sejak kali pertama aku memperhatikan tulisannya. Aku semakin jatuh cinta dengan pola pikirnya, aku semakin tak berdaya dengan narasi-narasi luar biasa yang dihasilkan otaknya. Otakku mulai tak mau mengikuti perintah tuannya, ya dia berpersepsi sendiri, akhir-akhir ini dia sering membuat bayangan seorang pria yang wajahnya samar-samar, mungkinkah seseorang yang saya cintai hanya karena tulisan itu adalah seorang pria? Sementara hatiku mulai sok tahu dengan ideologi yang dia reka-reka sendiri.  

Memang sulit untuk menyeimbangkan hati dan logika ketika cinta mulai tercipta.


Aku mulai brutal karena dipermainkan oleh otakku sendiri, aku harus menemui penulis itu! Aku harus mengetahui wujud nyata seseorang yang telah membuatku jatuh cinta! Aku mulai sibuk dengan hal-hal absurd yang bahkan tak kuketahui sebab mengapa aku harus melakukannya. Sampai pada suatu saat dimana aku memberanikan diri untuk mengirim pesan, menjadi sebagian kecil dari banyak orang yang mungkin seirng mengirim pesan untuknya.

“Hey.” Satu kata yang kukirim padanya, tanpa rencana, penuh tanda tanya.
“Ya?” Dia menjawabnya dengan cepat dan singkat, aksi reaksi yang memukau. Satu kata yang mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
“Punya e-mail enggak, Mas, Mbak?” Tanyaku lagi, dengan senyum yang melengkung sempurna dibibirku, aku masih tak percaya akan hal itu.
“Punya, ******************@*****.com” Jawabnya singkat, sesingkat pertemuan kita di dunia maya kala itu.
Aku masih tak percaya dengan yang terjadi. Penulis yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu membalas pesan singkatku.

 Tulisan memang mampu membuat seseorang jatuh cinta secara tiba-tiba, sedangkan dunia maya mampu mengagetkan seseorang secara tiba-tiba. Hanya dengan kata “hey” itu, semua berubah jadi begitu indah, semua mengalir dengan begitu lumrah.

***

“Aku suka tulisanmu.” Sapaku singkat, lewat e-mail. Sapa tak tersentuh dan menjaring maya.
“Iya ya? Wah terimakasih ya. Saya juga suka tulisanmu yang bercerita tentang dunia maya itu.” Jawabnya lugu, aku terbelalak, jantungku semakin cepat berdetak. Dia tak pernah tahu bahwa ceritaku selalu terinspirasi dari sosoknya yang maya dan tak tersentuh.
“Kamu serius? Pujian singkatmu benar-benar meruntuhkanku.” Balasku sejujur-jujurnya. Saat aku membaca pesan singkatnya, aku tersenyum malu-malu,  
tapi jauh di jarak yang tak kuketahui, apakah dia juga begitu?

“Iya, aku serius. Ah, kamu berlebihan.” Sekali lagi dia membalas e-mailku. Panggilan “saya” dan “anda” berubah menjadi “aku” dan “kamu”. Benar-benar absurd dan tak terencana, apakah ini cinta?
“Hahaha. Jadi, kamu pria? Tinggal di Jakarta?”
“Ya, Jakarta! Kota yang tak pernah tidur, 11 12 denganku yang jarang tidur! Dan, kamu wanita? Jakarta?”
“Aku wanita dan menetap di Jakarta. Jadi, ada yang bisa dihubungi selain e-mail? Aksi reaksi dan balasannya lebih cepat.” Pancingan terselubung yang kulontarkan pada sosoknya yang maya itu.
“Phone number? Minta nomor handphone saja berbelit-belit, lucu sekali ya kamu. 081*********” Jawabnya singkat, nafasku tercekat. Sialan! Pria ini membuat otakku semakin sibuk memikirkannya!
Tak disangka percakapan kecil melalui e-mail itu tercipta dengan begitu lugu dan penuh ketidaksengajaan. 

Mahluk tak bernafas bernama handphone benar-benar mendekatkan kami yang dulu penuh dengan jarak.

***

Dua minggu ini aku masih saja sering meringis sendirian saat membaca pesan singkatnya. Candanya, cara dia berbicara, dan cara dia mengutarakan pendapatnya. Seringkali percakapan kecil yang tercipta membuatku percaya bahwa dia benar-benar ada dan mungkin merasakan perasaan yang sama denganku.
Dia mampu membuatku percaya pada apa yang sebenarnya tak kulihat.

 Dia tunjukkan banyak hal yang dulu tak pernah kupercayai, salah satunya cinta. 

 Dia perlihatkan kekuatan itu tanpa sengaja kepadaku. Dia buatku jatuh tapi kemudian dia genggan tanganku erat-erat, untuk meyakinkan bahwa aku tak jatuh cinta sendirian.
“Sudah makan?” Sapaku sederhana, mengirim pesan singkat untuknya.
“Belum. Ada apa? Kamu sudah makan?” Jawabnya dengan cepat, dari jawabannya yang singkat, aku tahu bahwa dia sedang sibuk.
“Aku sudah, nanti kalau sudah selesai kerjaannya segera makan ya. Jangan telat makan!” Perintahku padanya. Mungkin kala itu dia sedang membaca ribuan tulisan sambil memasang wajah kantuk di depan laptopnya.
“Iya, nanti malam aku ingin bicara sesuatu. Sediakan waktumu!” ucapnya melalui pesan singkat. Aku tersentak, sepertinya ada hal penting yang ingin dia biacarakan.

***

“Jadi, ada yang ingin kaubicarakan?” Aku mengawali percakapan yang diselimuti rasa lelah setelah aku dan dia bekerja seharian.
“Ya, kaubutuh perjumpaan nyata?” dia bertanya dengan suara lelahnya.
“Aku? Kita!”
“Ya, kita butuh perjumpaan nyata!”
“Mengapa?”
“Karena tak selamanya kau akan hidup dalam dunia maya.” Jelasnya santai.
Setiap perasaan memang butuh perjumpaan.” Ucapku mantap.
“Perjumpaan nyata!” Sambungnya tanpa ragu.
“Dimana?”

***

Hujan kala itu benar-benar memancing emosiku untuk meledak-ledak, tapi kubiarkan emosi itu luruh bersama derasnya bulir-butir hujan yang menyentuh atap Stasiun Kereta Api Pondok Cina. Entah mengapa stasiun ini selalu terlihat sepi. Ah, sudah pukul 17.00, hujan masih saja mengguyur malu-malu, rintik-rintiknya seperti meledek, jatuh pelan-pelan tanpa merasa bersalah. 

Sedangkan jam janjian telah lewat 30 menit, kereta juga taj kunjung tiba. Aku kelimpungan. Aku kebingungan.
“Kamu dimana?” pesan singkat yang ke-10 dengan pertanyaan yang sama. Dari siapa? Dari dia, sang penulis yang kucintai karena tulisannya!
“Stasiun Pondok Cina, aku terjebak hujan.”
“Pantas lama, yasudah tidak usah, aku ada meeting mendadak.” Sekejap saja hatiku langsung ngilu. Semudah dan secepat itukah? Mengapa dia tak mau menunggu?

Rasanya aku ingin membuat hujan baru di pelupuk mataku. Aku sangat ingin menangis kala itu. Aku mengumpat hujan, mengumpat senja yang tetap saja menangis. Senja masih saja senang digoda hujan. Aku semakin kebingungan.
Dinginnya hujan masihs aja menusuk tulang, hatiku mengerang. 

Diam-diam aku menangis sendirian, saat aku sedang sibuk mengucek-ngucek mataku agar tak terlihat sembab, aku merasa ada tangan lembut yang menarik tanganku. Lalu, aku menatap heran pada seseorang yang ada di sampingku, dengan tatapan heran layaknya menodong dia dengan pertanyaan 
“Siapa kamu?”

Aku yang dua minggu terakhir ini selalu kauingatkan agar tidak telat makan.” Sambil tersenyum, pria itu menatapku.

Kuperhatikan matanya yang redup, kantung matanya yang hitam, pipinya yang tius, dan bibirnya yang tipis. Aku ikut melengkungkan senyum. Wajahnya terantuk diujung kantuk, tubuhnya basah oleh hujan senja. 

Kala itu, dia begitu memesona.

 ***


gimana ? keren gak ?
sempet mikir gak sih kalo pengen jugak punya love story kek gitu ? 

kalo IYA..

berarti aku gak sendirian :'D