Tuhan, jika ini bukan cinta, lalu
mengapa aku merasa begitu takut kehilangan?
Aku selalu meyakinkan diri dari awal,
kalau kamu bukan hanya sekedar pilihanku,
sebab aku tak sekedar memilih, tapi
juga berjuang.
Sulit memang mencintaimu, tapi lebih sulit untuk tidak
mencintaimu.
Aku
ingat betapa renyah tawamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta.
Aku juga ingat betapa genggamanmu mampu
membuatku yakin, kita bisa.
Ada hal yang sangat aku sukai.
Diam-diam
menghirup dalam-dalam aroma punggungmu.
Aku ingin menghirup semua beban yang
menumpuk disana agar hilang masuk kekerongkongaan
Sayang, dengarkan baik-baik pintaku..
jangan biasakan dirimu dengan perpisahan dan kepergian.
Mungkin memang terlalu cepat,
namun telah
kulesatkan doa, mencatut namamu pada setiap semoga.
Karena di setiap "semoga"
darimu, terselip "aamiin" dariku.
Bukannya aku tidak bisa tanpamu,
aku
yakin.. aku bisa.
Hanya saja denganmu, aku merasa lebih mampu. Lebih sempurna
Jika ada yang lebih hangat dari sebuah
pelukan, mungkin adalah kesetiaan
Jika mulai lelah menghadapiku,
Pergilah
sementara, lalu kembali untuk sebuah selamanya.
Jika mulai lelah menyayangiku,
Mari
bertatap muka kembali,
Agar kamu ingat bagaimana kita dulu saling jatuh cinta.
Cintai aku pelan-pelan...
Pelan-pelan
saja...
Hingga kamu sadar, akulah satu-satunya kebahagiaan
“Tuhan, jika ini bukan cinta, lalu
mengapa aku merasa begitu takut kehilangan?”
Lalu aku mulai menemukan jawaban..
Sebab tak kutemukan satu tenang pun di
luar lenganmu.