Sabtu, 18 Mei 2013

Pouring Rain (part 1)




Hujan lagi, dear.
Selalu suka aroma ini. Wangi tanah yang kering lalu tersiram air. Agak apak.. tapi menyejukkan.
Turun jatuh pecah. Turun lagi. Jatuh lagi. Pecah lagi. Hujan.
Berteduh. Sendirian. Aku tersenyum kecil melihat pasangan yang berdiri diseberang sana. Perempuan yang tersenyum kecil, dengan wajah yang sedikit merah menahan malu saat tangannya digenggam erat dengan laki-laki disampingnya. Mungkin… saling berbagi hangat,.
Aku tidak sadar, mengeluarkan helaan nafas. Kemudian mengarahkan pandangan kearah lain.

Aku juga pernah kok.
Eh bukan ! bukan pernah.. tapi hampir.
Berteduh berdua dengan dia. Huf.. aku benci untuk sekedar mengingat. Senyum ini tidak bisa ditahan, dan debaran yang kembali datang

Waktu itu juga seperti sore ini. Sore menjelang magrib. Hujan yang lumayan deras. Berteduh berdua. Tetapi tidak ada genggaman tangan. Hanya aku yang berusaha meredakan rasa dingin dengan menggosokkan kedua telapak tangan secara cepat dan tiupan kecil keluar dari bibir. Dan dia.. dengan santai duduk diteras toko. Tidak peduli dengan cipratan air yang mengenai jeans hitamnya. Aku tersenyum geli melihat itu. Lalu mulai banyak cerita yang mengundang tawa, kejahilan yang sudah menjadi snack setiap hari. Aku selalu suka dengan bunyi tawa itu. Renyah dan sedikt serak.

“Dingin....”aku bergumam sendiri.

Dingin.

Tangannya juga dingin. Ntahlah. Hanya dia yang memiliki telapak tangan.. dingin. Tangan itu, yang pernah memegang daguku, tangan itu yang sering menjahili dengan mengusap-usap dahiku tanpa alasan. Tangan itu juga yang sering menutup mataku dengan tiba-tiba dari belakang. Sering sekali bercanda. Sama-sama cerewet, sama-sama sering berbuat kesal. Aku ingat, waktu itu dia mengusap pipiku dengan tangannya yang habis memegang es batu. Sedikit menyebalkan. Tapi aku.. suka

Pfft.. tapi sekarang beda, dear. Berteduh sendirian, dengan sweater hitam yang bermaksud menghangatkan tapi.. gagal. Bibir mulai sedikit bergetar, tangan yang berubah agak lebih pucat. Seragam kantor yang terkena cipratan dari tetesan atap canopi yang sedikit berlubang.

Hatchim !!
Selalu saja begini, hujan sedikit lalu pilek. Berusaha mencari-cari tissue yang terselip diantara kertas laporan didalam tas.

“Duh.. aduh. Kan.. basah, kan”
Aku menoleh ke suara yang bernada agak sedikit kesal itu.
Cewek itu sibuk mengusap-usap bajunya yang sedikit basah dan sepatunya yang terkena lumpur. Wajahnya.... cantik. Berlesung pipi. Berambut sebahu. Tebal dan hitam.

“Iya.. iya.. maaf..” si cowok berusaha meminta maaf.
Aku menatap ke arah cowok, dia juga begitu.

Itu.. dia... DIA !! ADIT !!. jeritku dalam hati.

Entah berapa detik mata ini tidak bisa lepas untuk mengalihkan kearah lain. Aku melihat Adit. Mulutnya agak sedikit terbuka. Lalu tersenyum samar.. hilang.

Oke cukup!!!” perintah otakku untuk mengalihkan mata kearah lain. Aku menggigit bibir kuat-kuat. Rasanya hampir seperti ingin berdarah. Aku tidak peduli !

Ayolah mata, berdamailah untuk kali ini” gumamku sambil sedikit mendongakkan wajah. 

Mata yang mulai panas dan memerah.

Aku tidak peduli, aku berlari secepat mungkin. Peduli apa dengan cipratan yang mengotori seluruh celana kantorku. Aku harus pergi !!

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar