Hujan
lagi, dear.
Selalu
suka aroma ini. Wangi tanah yang kering lalu tersiram air. Agak apak.. tapi
menyejukkan.
Turun
jatuh pecah. Turun lagi. Jatuh lagi. Pecah lagi. Hujan.
Berteduh.
Sendirian. Aku
tersenyum kecil melihat pasangan yang berdiri diseberang sana. Perempuan yang
tersenyum kecil, dengan wajah yang sedikit merah menahan malu saat tangannya
digenggam erat dengan laki-laki disampingnya. Mungkin… saling berbagi hangat,.
Aku
tidak sadar, mengeluarkan helaan nafas. Kemudian mengarahkan pandangan kearah
lain.
Aku juga pernah kok.
Eh bukan ! bukan pernah.. tapi
hampir.
Berteduh
berdua dengan dia. Huf.. aku benci untuk sekedar mengingat. Senyum ini tidak
bisa ditahan, dan debaran yang kembali datang
Waktu itu juga seperti
sore ini. Sore menjelang magrib. Hujan yang lumayan deras. Berteduh berdua.
Tetapi tidak ada genggaman tangan. Hanya aku yang berusaha meredakan rasa
dingin dengan menggosokkan kedua telapak tangan secara cepat dan tiupan kecil
keluar dari bibir. Dan dia.. dengan santai duduk diteras toko. Tidak peduli
dengan cipratan air yang mengenai jeans hitamnya. Aku tersenyum geli melihat
itu. Lalu mulai banyak cerita yang mengundang tawa, kejahilan yang sudah
menjadi snack setiap hari. Aku selalu suka dengan bunyi tawa itu. Renyah dan sedikt serak.
“Dingin....”aku bergumam sendiri.
Dingin.
Tangannya juga dingin. Ntahlah. Hanya dia yang memiliki telapak tangan..
dingin. Tangan itu, yang pernah memegang daguku, tangan itu yang sering
menjahili dengan mengusap-usap dahiku tanpa alasan. Tangan itu juga yang sering
menutup mataku dengan tiba-tiba dari belakang. Sering sekali bercanda.
Sama-sama cerewet, sama-sama sering berbuat kesal. Aku ingat, waktu itu dia
mengusap pipiku dengan tangannya yang habis memegang es batu. Sedikit
menyebalkan. Tapi aku.. suka
Pfft..
tapi sekarang beda, dear. Berteduh sendirian, dengan sweater hitam yang
bermaksud menghangatkan tapi.. gagal. Bibir mulai sedikit bergetar, tangan yang
berubah agak lebih pucat. Seragam kantor yang terkena cipratan dari tetesan atap
canopi yang sedikit berlubang.
Hatchim !!
Selalu saja begini, hujan sedikit
lalu pilek. Berusaha mencari-cari tissue yang terselip diantara kertas laporan
didalam tas.
“Duh.. aduh. Kan.. basah, kan”
Aku menoleh ke suara yang bernada
agak sedikit kesal itu.
Cewek itu sibuk mengusap-usap
bajunya yang sedikit basah dan sepatunya yang terkena lumpur. Wajahnya....
cantik. Berlesung pipi. Berambut sebahu. Tebal dan hitam.
“Iya.. iya.. maaf..” si cowok
berusaha meminta maaf.
Aku menatap ke arah cowok, dia juga
begitu.
Itu.. dia... DIA !! ADIT !!.
jeritku dalam hati.
Entah berapa detik mata ini tidak
bisa lepas untuk mengalihkan kearah lain. Aku melihat Adit. Mulutnya agak
sedikit terbuka. Lalu tersenyum samar.. hilang.
“Oke cukup!!!” perintah otakku untuk mengalihkan mata kearah lain. Aku
menggigit bibir kuat-kuat. Rasanya hampir seperti ingin berdarah. Aku tidak
peduli !
“Ayolah mata, berdamailah untuk kali ini” gumamku sambil
sedikit mendongakkan wajah.
Mata yang mulai panas dan memerah.
Aku tidak peduli, aku berlari
secepat mungkin. Peduli apa dengan cipratan yang mengotori seluruh celana
kantorku. Aku harus pergi !!
(to be continued)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar