Rabu, 29 Mei 2013

Pouring Rain (part 2)



*JDAAARR!!*


Aku membanting pintu kamar. Tidak peduli dengan baju yang basah kuyup. Celana yang berubah kecoklatan terkena lumpur.

Air mata yang ditahan selama 2 tahun. Pecah. Ada sakit yang tercekat ditenggorokan. Menangis pelan dilantai kamar. Menunduk terisak. Menangis kencang-kencang menyaingi bunyi hujan yang masih saja deras diluar. Kenapa sekarang....

Adit.. Adit..

Ntahlah, terlalu bodoh menangisi sambil masih terus menyebut nama itu. Benci dengan diri sendiri. Seenaknya saja muncul setelah 2 tahun menghilang. Melewatkan kata-kata indah yang terlambat diucapkan. Terlambat atau memang sengaja tertahan? Hanya takut melukai.

Dan tangis ini semakin menjadi-jadi.

* * *

Sore hari ini, langit memerah menunggu senja.

*Ting Tong*


“Adit??”

Ya.. Adit yang berdiri didepan pintu. Masih tetap mempesona. Baju kemeja biru muda dengan jeans hitam.

“Hai, apa kabar?” sapa Adit sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Masih tetap, dingin.

Aku masih terpana, sampai akhirnya sadar. Itu memang dia.

“Masuk, Dit” kataku sambil menunduk.

“Diteras aja, gapapa kan?”

Aku terdiam. Masuk kedalam sambil membuatkan capuccino hangat.

“Sudah lama sekali ya..” Adit bergumam disampingku. Aku masih terdiam. Dan sadar, langit sekarang lebh berkilau dari biasanya, berwarna orange cerah.

“Apa kabar?” tanyaku. masih sambil menunduk. Seolah-olah ada wajah Adit dikeramik teras.

“Baik. Kamu?”Bisa aku rasakan Adit sedang melihat kearahku, berusaha saling bertatapan.

“Baik juga” jawabku sambil menatap mata itu. Masih teduh.. ada perasaan letih disitu.

“Baguslah” Adit menjawab singkat,

Lalu sama-sama terdiam. Lama.

“Aku mau minta maaf..” suara itu memecah keheningan.

Aku menatap Adit. Lama sekali. Minta maaf? Buat apa?

“Buat apa?” suaraku seperti bertanya dengan anak kecil. Pelan sekali.

“Ntahlah, aku ngerasa udah jadi cowok brengsek. Maaf.. maaf....”

“Sori?? Kenapa bisa punya pikiran itu?”, aku menatap Adit.

Badan itu telah menghadap kearahku. 

“Aku.. udah ngebuat posisi kamu seperti ‘cadangan’...

“bukan seperti, tapi emang udah” aku memotong cepat. Adit tersentak.

“Maaf.. maaf...”

Tolong, jangan minta maaf lagi.


Adit menunduk. Aku menatap pagar didepan. Sama-sama terdiam.
“...aku hanya belum bisa untuk tidak merindukan kamu, Dit.”. Sejurus kata-kata itu meluncur dari bibirku. Tanpa dikendalikan dengan otak. Sedetik kemudan aku berteriak dalam hati “ASTAGA ! ASTAGA !”


Adit menatapku. Tatapannya membulat. Terkejut. Aku menunduk dalam. Tidak berani melihat. “Aku harus bagaimana?” perintah otakku.


Oke. Aku membenarkan posisi duduk. Lebih tegap. Menatap Adit..
“A.. Aku merindukanmu. Kita. Mungkin ini sedikit menggelikan. Merindukan orang selama 2 tahun tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku menyimpan rasa dari saat kita kuliah, bertemu hampir setiap hari didalam kelas, doing stupid things together, lalu muncul rasa.. rasa yang membuat susah tidur, debaran yang sama setiap bertemu, lalu tertawa bersama. Tapi aku bisa apa, Dit? Waktu itu aku dengar kamu sudah punya pacar yang sudah dijalani selama 2 tahun juga. Tapi aku senang.. hanya didekatmu aku sudah merasa senang”


Aku tersenyum. Oke.. ini acting yang perlu mendapat piala oscar ! ‘senang walau hanya ddekatmu! Omong kosong !’.


Adit masih menatap mataku. Kali ini aku menatap matanya dengan berani. Seakan-akan beban yang dipundak, hilang semua. Dan lega...

Aku tersenyum.
“Jangan menatapku, aku berbeda dengannya”. Aku tertawa kecil.

Adit sedikit tersentak.

“Aku sadar.. aku nyaman.. dengan kita. Tertawa bersama. Ntahlah... aku tidak peduli kamu akan percaya atau tidak, tapi memang, setiap aku sampai kampus, yang pertama aku cari itu.. kamu, aku nyaman.. aku tidak tahu, aku hanya merasa nyaman. Aku bisa jadi diri sendiri saat bersamamu.” Adit berkata pelan.

Lalu menunduk. Wajahnya agak memerah.

Aku tersenyum. Tapi tidak tahu mengapa, debaran itu tidak ada lagi. Aku juga merasa heran.




Terlalu bodoh untuk mempertahankan cinta selama 2 tahun. Tanpa ada rasa nyaman disana...


Tapi saat kamu bisa memilih.. kamu memilih dia.” Aku memotong cepat.

Adit menatapku. Ada rasa lelah disana.



“Maaf...”

“Sudah aku maafin”

“Maaf...”

“Ssshhh.... Adit” Aku mendesah. Sedikit kesal.  “Apa kamu bisa untuk tidak mengangguku?! Aku sudah hampir menghilangkan kamu dari otak, lalu seenaknya saja muncul dan membicarakan... kita. Aku hanya ingin bahagia. Kamu meninggalkan aku. Aku bisa apa? saat aku memang tidak ada hak untuk menahan kamu untuk tetap tinggal. Aku bisa apa??! coba jawab, Dit.. Aku hanya.... le..lelah”

Setitik air mata jatuh. Terisak.

Adit berdiri, lalu memelukku. Erat.

* * *

Masih seperti biasanya... menutup pagar dan mengucapkan ‘hati-hati dijalan yaa’ untuknya. Tapi yang aku tahu, aku berusaha untuk tidak menatapnya.

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar