Jumat, 03 Oktober 2014

Punggungmu, Rumahku

"Bahagia lebih susah untuk dijabarkan semenjak denganmu, Tama."

Pernah berpikir untuk menelan caramu mentah-mentah dan memutuskan tidak akan menceritakannya dengan siapapun. Dengan alasan, aku tidak mau orang lain jatuh hati padamu setelah mendengar ceritaku. Egois sekali ya. Benar. Aku memang egois dan keras kepala ketimbang harus melihat orang lain jatuh cinta padamu.
Bersamamu, Tama, aku berubah. Dan ajaibnya aku berubah kearah yang lebih baik. Denganmu pula aku menjadi diri sendiri. Kita tumbuh dalam kebersamaan. Kamu menyayangiku dengan cara yang aku suka.

Denganmu, tak ada yang percuma

Kamu memang tidak sempurna. Pernah aku membencimu dan merutukimu sedemikian rupa. Pernah juga aku hampir mati rasa dengan keegoanmu. Dan selalu pesan singkat yang kamu kirim dari awal kita kenal, selalu berhasil menimbulkan lengkung di bibirku. Caramu yang selalu berhasil untuk membuatku tertawa sekacau apa hariku.

Tidak sedikit hari yang kita lalui yang bertemu dengan kerikil kecil. Tentang bagaimana ceritamu dengan pekerjaanmu, yang herannya malah aku yang menahan tangis mati-matian pada saat itu. Tentang bagaimana kita bertengkar untuk waktu yang lebih dari sehari. Tidak ada kabar selama dua hari. Tapi sama sekali tidak ada dipikiranku untuk menyerah begitu saja. Dan cerita yang dimana aku dibuat cemburu olehmu dengan sebuah pesan singkat. Lagi lagi menahan tangis. Tapi, disini, tidak ada sedikitpun rasa tidak percaya denganmu. Anehnya aku akan mau (dan selalu mau) untuk melewati beratus-ratus hari kedepan denganmu. Hanya denganmu.



Hari yang menyenangkan juga terlalu banyak untuk dijabarkan satu-satu. Tentang kita yang masak kue favorit dirumahmu, makan mi dipinggir jalan, jajan angkringan, nonton bioskop berdua, melakukan hal aneh dan kadang bernyanyi bersama didalam mobil (kamu pernah usil dengan memasukkan lagu yang paling aku benci sesudah lagu favoritku diputar! Dan kita... malah tertawa keras mendengarnya) melempar joke setiap waktu, makan es krim roti ditempat yang sama, selalu memesan satu piring wafel coklat di AW dan makan berdua.

Dan... saat kamu menggenggam tanganku erat, lalu mencium pelan punggung tanganku. Hangat. Lama. Aku selalu menyukainya. Membuat nyaman.
Dan saat-saat seperti itu aku tahu, bahwa kamu dan segala kekurangan yang kamu punya adalah sebentuk kebahagiaan yang aku mau.


Yang mencintaimu,

Aku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar