"Bahagia lebih susah untuk dijabarkan semenjak
denganmu, Tama."
Pernah berpikir untuk menelan caramu
mentah-mentah dan memutuskan tidak akan menceritakannya dengan siapapun. Dengan
alasan, aku tidak mau orang lain jatuh hati padamu setelah mendengar ceritaku.
Egois sekali ya. Benar. Aku memang egois dan keras kepala ketimbang harus
melihat orang lain jatuh cinta padamu.
Bersamamu, Tama, aku berubah. Dan ajaibnya aku
berubah kearah yang lebih baik. Denganmu pula aku menjadi diri sendiri. Kita
tumbuh dalam kebersamaan. Kamu menyayangiku dengan cara yang aku suka.
Denganmu, tak ada yang percuma
Kamu memang tidak sempurna. Pernah aku
membencimu dan merutukimu sedemikian rupa. Pernah juga aku hampir mati rasa
dengan keegoanmu. Dan selalu pesan singkat yang kamu kirim dari awal kita
kenal, selalu berhasil menimbulkan lengkung di bibirku. Caramu yang selalu
berhasil untuk membuatku tertawa sekacau apa hariku.
Tidak sedikit hari yang kita lalui yang
bertemu dengan kerikil kecil. Tentang bagaimana ceritamu dengan pekerjaanmu,
yang herannya malah aku yang menahan tangis mati-matian pada saat itu. Tentang
bagaimana kita bertengkar untuk waktu yang lebih dari sehari. Tidak ada kabar
selama dua hari. Tapi sama sekali tidak ada dipikiranku untuk menyerah begitu
saja. Dan cerita yang dimana aku dibuat cemburu olehmu dengan sebuah pesan
singkat. Lagi lagi menahan tangis. Tapi, disini, tidak ada sedikitpun rasa
tidak percaya denganmu. Anehnya aku akan mau (dan selalu mau) untuk melewati
beratus-ratus hari kedepan denganmu. Hanya denganmu.
Hari yang menyenangkan juga terlalu banyak
untuk dijabarkan satu-satu. Tentang kita yang masak kue favorit dirumahmu,
makan mi dipinggir jalan, jajan angkringan, nonton bioskop berdua, melakukan
hal aneh dan kadang bernyanyi bersama didalam mobil (kamu pernah usil dengan memasukkan
lagu yang paling aku benci sesudah lagu favoritku diputar! Dan kita... malah
tertawa keras mendengarnya) melempar joke setiap waktu, makan es krim roti
ditempat yang sama, selalu memesan satu piring wafel coklat di AW dan makan
berdua.
Dan... saat kamu menggenggam
tanganku erat, lalu mencium pelan punggung tanganku. Hangat. Lama. Aku selalu
menyukainya. Membuat nyaman.
Dan
saat-saat seperti itu aku tahu, bahwa kamu dan segala kekurangan yang kamu
punya adalah sebentuk kebahagiaan yang aku mau.
Yang
mencintaimu,
Aku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar